GELOMBANG investasi industri hilirisasi nikel di Indonesia telah menciptakan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, hilirisasi menjanjikan percepatan ekonomi, peningkatan nilai tambah, dan lapangan kerja.
Namun di sisi lain, pengalaman di Morowali membuktikan bahwa percepatan tanpa kendali dapat melahirkan apa yang disebut para akademisi sebagai chaotic development, kondisi dimana pembangunan tumbuh cepat tetapi rapuh, tak terencana, dan meninggalkan beban sosial–lingkungan yang mahal.

Kini, bayang-bayang Morowali itu kembali tampak di Luwu Timur. Sebuah kawasan industri besar tengah direncanakan dengan arus investasi besar dari Tiongkok—pola yang sangat mirip dengan fase awal industrialisasi Morowali.
Pertanyaannya adalah, apakah kita akan kembali mengulang pola lama sebelum memastikan kesiapan daerah, kapasitas regulasi, dan perlindungan masyarakat?
Belajar dari Morowali
Morowali adalah pelajaran terdekat dan paling konkret tentang bagaimana investasi skala besar yang didominasi satu sumber pendanaan dapat menciptakan distorsi struktural.
Dominasi modal asing dalam penentuan kecepatan, pola ekspansi, hingga standar kerja dan lingkungan, membuat pemerintah daerah kehilangan daya kendali.
Ketimpangan pun muncul. Infrastruktur publik kalah cepat dibanding infrastruktur industri, tekanan ekologis meningkat, dan konflik sosial tumbuh seiring masuknya tenaga kerja besar-besaran.
Akademisi dari berbagai kampus telah mengingatkan bahwa ketergantungan pada satu poros investasi membuat ekosistem industri menjadi monopolar, yang rapuh ketika harga global bergejolak, dan sulit dikoreksi ketika terjadi penyimpangan.
Luwu Timur dan Opsi Jalur yang Berbeda
Luwu Timur kini berada di titik krusial. Ambisi menghadirkan kawasan industri berbasis nikel memang sejalan dengan agenda hilirisasi nasional. Tapi tanpa desain yang matang, daerah ini berpotensi mengikuti jejak Morowali dengan segala eksesnya.

Lebih jauh, pola investasi yang sekali lagi didominasi modal Tiongkok seolah menutup pintu bagi opsi lain—baik dari investor lokal, BUMN, maupun konsorsium nasional non-Tiongkok—yang sebenarnya bisa menawarkan model pembangunan yang lebih seimbang dan lebih mengakar di daerah.
Ketika pilihan investasi menjadi terbatas, daerah kehilangan daya tawar, dan masyarakat kehilangan kesempatan menikmati nilai tambah yang lebih adil.
Dalam konteks ini, pemerintah daerah semestinya tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga penentu arah.
Kawasan industri harus dipastikan berjalan di atas prinsip keterbukaan, keberagaman sumber modal, dan kompetisi sehat antar-investor.
Hilirisasi bukan hanya tentang membangun smelter, tetapi juga membangun ekosistem industri yang berkelanjutan dan memberi ruang bagi pengusaha lokal tumbuh bersama.
Jika ada satu pelajaran paling mahal dari Morowali, itu adalah bahwa regulasi harus disiapkan jauh sebelum ekskavator pertama masuk dan memulai operasional.
Kelemahan tata ruang, lambannya AMDAL, dan absennya sistem pemantauan lingkungan yang kuat membuat daerah sulit mengendalikan ekspansi industri.
Luwu Timur harus membangun tata kelola yang lebih kokoh dengan memastikan AMDAL yang benar-benar independen, menetapkan batas kapasitas daya dukung lingkungan, menyeleksi asal investasi yang tidak mono-sumber, serta menjamin partisipasi publik sejak tahap perencanaan.
Tanpa itu semua, kawasan industri yang tengah direncanakan hanya akan menjadi fotokopi dari Morowali—versi baru yang mungkin lebih besar, tetapi tentunya tidak akan lebih baik.

Penutup
Hilirisasi adalah kebijakan strategis. Tapi strategi hanya berarti jika manfaatnya merata, keberlanjutannya terjaga, dan daerah memiliki kontrol penuh atas masa depannya.
Dengan semua pelajaran yang bisa dilihat dari Morowali dan berbagai kawasan industri yang sudah lebih dahulu eksis di negara ini, Luwu Timur sebenarnya punya peluang besar untuk menjadi model hilirisasi yang lebih demokratis, lebih inklusif, dan lebih nasionalistis.
Kita tentu tak menolak investasi asing. Yang kita tolak adalah pembangunan yang tidak memberi ruang bagi kemandirian lokal, mengulang kesalahan lama, atau menjadikan daerah hanya sebagai lokasi ekstraksi nilai tambah.
Luwu Timur masih punya waktu untuk memilih jalur yang berbeda. Pertanyaannya kini adalah, apakah kita akan belajar dari Morowali—atau membiarkan sejarah yang sama berulang dengan aktor yang berbeda, di kampung halaman kita sendiri?
Makassar, 29 November 2025
Asri Tadda (Direktur The Sawerigading Institute)
Last Updated: November 29, 2025 by TSI
Jangan Ulangi Kesalahan Morowali di Luwu Timur!
GELOMBANG investasi industri hilirisasi nikel di Indonesia telah menciptakan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, hilirisasi menjanjikan percepatan ekonomi, peningkatan nilai tambah, dan lapangan kerja.
Namun di sisi lain, pengalaman di Morowali membuktikan bahwa percepatan tanpa kendali dapat melahirkan apa yang disebut para akademisi sebagai chaotic development, kondisi dimana pembangunan tumbuh cepat tetapi rapuh, tak terencana, dan meninggalkan beban sosial–lingkungan yang mahal.
Kini, bayang-bayang Morowali itu kembali tampak di Luwu Timur. Sebuah kawasan industri besar tengah direncanakan dengan arus investasi besar dari Tiongkok—pola yang sangat mirip dengan fase awal industrialisasi Morowali.
Pertanyaannya adalah, apakah kita akan kembali mengulang pola lama sebelum memastikan kesiapan daerah, kapasitas regulasi, dan perlindungan masyarakat?
Belajar dari Morowali
Morowali adalah pelajaran terdekat dan paling konkret tentang bagaimana investasi skala besar yang didominasi satu sumber pendanaan dapat menciptakan distorsi struktural.
Dominasi modal asing dalam penentuan kecepatan, pola ekspansi, hingga standar kerja dan lingkungan, membuat pemerintah daerah kehilangan daya kendali.
Ketimpangan pun muncul. Infrastruktur publik kalah cepat dibanding infrastruktur industri, tekanan ekologis meningkat, dan konflik sosial tumbuh seiring masuknya tenaga kerja besar-besaran.
Akademisi dari berbagai kampus telah mengingatkan bahwa ketergantungan pada satu poros investasi membuat ekosistem industri menjadi monopolar, yang rapuh ketika harga global bergejolak, dan sulit dikoreksi ketika terjadi penyimpangan.
Luwu Timur dan Opsi Jalur yang Berbeda
Luwu Timur kini berada di titik krusial. Ambisi menghadirkan kawasan industri berbasis nikel memang sejalan dengan agenda hilirisasi nasional. Tapi tanpa desain yang matang, daerah ini berpotensi mengikuti jejak Morowali dengan segala eksesnya.
Lebih jauh, pola investasi yang sekali lagi didominasi modal Tiongkok seolah menutup pintu bagi opsi lain—baik dari investor lokal, BUMN, maupun konsorsium nasional non-Tiongkok—yang sebenarnya bisa menawarkan model pembangunan yang lebih seimbang dan lebih mengakar di daerah.
Ketika pilihan investasi menjadi terbatas, daerah kehilangan daya tawar, dan masyarakat kehilangan kesempatan menikmati nilai tambah yang lebih adil.
Dalam konteks ini, pemerintah daerah semestinya tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga penentu arah.
Kawasan industri harus dipastikan berjalan di atas prinsip keterbukaan, keberagaman sumber modal, dan kompetisi sehat antar-investor.
Hilirisasi bukan hanya tentang membangun smelter, tetapi juga membangun ekosistem industri yang berkelanjutan dan memberi ruang bagi pengusaha lokal tumbuh bersama.
Jika ada satu pelajaran paling mahal dari Morowali, itu adalah bahwa regulasi harus disiapkan jauh sebelum ekskavator pertama masuk dan memulai operasional.
Kelemahan tata ruang, lambannya AMDAL, dan absennya sistem pemantauan lingkungan yang kuat membuat daerah sulit mengendalikan ekspansi industri.
Luwu Timur harus membangun tata kelola yang lebih kokoh dengan memastikan AMDAL yang benar-benar independen, menetapkan batas kapasitas daya dukung lingkungan, menyeleksi asal investasi yang tidak mono-sumber, serta menjamin partisipasi publik sejak tahap perencanaan.
Tanpa itu semua, kawasan industri yang tengah direncanakan hanya akan menjadi fotokopi dari Morowali—versi baru yang mungkin lebih besar, tetapi tentunya tidak akan lebih baik.
Penutup
Hilirisasi adalah kebijakan strategis. Tapi strategi hanya berarti jika manfaatnya merata, keberlanjutannya terjaga, dan daerah memiliki kontrol penuh atas masa depannya.
Dengan semua pelajaran yang bisa dilihat dari Morowali dan berbagai kawasan industri yang sudah lebih dahulu eksis di negara ini, Luwu Timur sebenarnya punya peluang besar untuk menjadi model hilirisasi yang lebih demokratis, lebih inklusif, dan lebih nasionalistis.
Kita tentu tak menolak investasi asing. Yang kita tolak adalah pembangunan yang tidak memberi ruang bagi kemandirian lokal, mengulang kesalahan lama, atau menjadikan daerah hanya sebagai lokasi ekstraksi nilai tambah.
Luwu Timur masih punya waktu untuk memilih jalur yang berbeda. Pertanyaannya kini adalah, apakah kita akan belajar dari Morowali—atau membiarkan sejarah yang sama berulang dengan aktor yang berbeda, di kampung halaman kita sendiri?
Makassar, 29 November 2025
Asri Tadda (Direktur The Sawerigading Institute)
THE SAWERIGADING INSTITUTE
Official Email:
thesawerigadinginstitute@gmail.com
Recent Publications