Lapangan Kerja Bertambah Tapi Ekonomi Melambat: Ada Apa dengan Luwu Timur?

Oleh: Asri Tadda (Direktur The Sawerigading Institute)

Foto Udara Kota Malili Luwu Timur

RILIS terbaru Badan Pusat Statistik menyimpan satu paradoks menarik di kawasan Luwu Raya. Di saat Kabupaten Luwu melonjak dengan pertumbuhan 7,43 persen dan Luwu Utara tumbuh 6,17 persen, Luwu Timur hanya bergerak di angka 3,7 persen.

Yang membuatnya menarik adalah pengangguran Luwu Timur justru turun cukup signifikan, dari 4,58 persen pada 2024 menjadi 3,70 persen tahun 2025.

Secara teori, ketika lebih banyak orang bekerja, output daerah mestinya ikut terdorong. Tetapi di Luwu Timur, penurunan pengangguran tidak berbanding lurus dengan ekspansi ekonomi.

Di sinilah ‘alarm kebijakan’ itu mulai berbunyi dan membangkitkan rasa penasaran yang begitu tinggi.

Angka-angka menunjukkan Luwu Timur bukan daerah bermasalah secara keekonomian. Tingkat kemiskinannya paling rendah di kawasan, hanya 5,79 persen. Artinya secara sosial, fondasi Luwu Timur relatif kuat.

Namun pertumbuhan 3,7 persen dalam konteks Luwu Raya hari ini bukan sekadar angka moderat. Itu adalah sinyal stagnasi relatif. Masalahnya sesungguhnya bukan pada stabilitas, tetapi kurangnya akselerasi.

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Luwu Timur 2025

Pekerjaan Ada, Nilai Tambah Stagnan

Ketika pengangguran turun tapi pertumbuhan tetap rendah, ada beberapa kemungkinan keras yang harus diakui.

Pertama, penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor berproduktivitas rendah. Artinya, orang memang bekerja, tetapi nilai tambah yang dihasilkan kecil. Pekerjaan bertambah, tapi output tidak melesat.

Kedua, struktur ekonomi Luwu Timur terlalu bergantung pada sektor padat modal seperti pertambangan. Sektor ini bisa menghasilkan output besar, tetapi tidak menyerap banyak tenaga kerja. Jika tidak ada ekspansi produksi atau lonjakan harga komoditas, maka pertumbuhan otomatis tertahan.

Ketiga, tidak ada mesin ekonomi baru yang tumbuh signifikan. Tidak terlihat adanya diversifikasi agresif ke sektor industri hilir, jasa modern, atau ekonomi berbasis UMKM bernilai tambah tinggi.

Singkatnya, lapangan kerja mungkin tercipta, tetapi produktivitas tidak melonjak. Tidak banyak memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Persoalan Struktur Ekonomi

Yang sedang terjadi di Luwu Timur saat ini bukanlah krisis. Ini hanya persoalan struktur perekonomian saja. Daerah ini seperti mobil besar dengan mesin kuat, tetapi sedang berjalan di gigi rendah. Ia tidak mundur, tapi juga tidak sedang menekan pedal gas untuk melaju.

Sementara itu, Luwu sedang berakselerasi. Lonjakan pertumbuhan di atas 7 persen menunjukkan adanya dorongan ekonomi yang lebih menyebar. Ketika dua tetangga melaju kencang, stagnasi relatif akan terasa makin nyata.

Penurunan pengangguran adalah kabar baik. Tapi jika tidak diiringi lonjakan produktivitas dan nilai tambah, maka yang terjadi hanya pergeseran sosial, bukan transformasi ekonomi.

Dalam jangka pendek, ini aman-aman saja.  Tetapi dalam jangka panjang, ini tentu sangat riskan. Karena daerah yang terlalu bergantung pada satu sektor dan tidak membangun mesin pertumbuhan baru akan sangat rentan terhadap guncangan eksternal.

Pertanyaannya sekarang sederhana. Apakah Luwu Timur puas dengan kondisi ‘stabil’ saat ini, atau ingin kembali menjadi lokomotif pertumbuhan di Luwu Raya?

Data sudah berbicara. Tinggal apakah kebijakan mau membaca sinyalnya dengan jernih — atau memilih mengabaikannya dengan apologi sedemikian rupa. (*)